Data dari WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa kanker merupakan penyebab kematian terbanyak nomor 2 di dunia, yaitu sebanyak 13% setelah penyakit kardiovaskular. Setiap tahunnya 12 juta orang di dunia didiagnosa menderita penyakit ini dengan 7,6 di antaranya meninggal dunia. Diprediksi di tahun 2030 mendatang, kejadian penyakit ini akan mencapai hingga 26 juta penderita dan 17 juta di antaranya akan kehilangan nyawa, terutama untuk negara miskin dan berkembang kejadiannya akan lebih cepat.

Kanker

Kanker

Indonesia sendiri menempati urutan ke-8 angka kejadian tertinggi di Asia Tenggara, dengan angka mencapai 136,2 per 100 ribu penduduk. Berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS), prevalensi penyakit ini di Indonesia terdapat peningkatan dari 1,4 per 1000 penduduk pada tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Dan beban penyakit ini diperkirakan akan mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Kanker payudara dan leher rahim merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita oleh kaum perempuan, sedangkan pada kaum lelaki yang paling banyak diderita yaitu paru dan kolorektal.

Kanker menjadi penyakit katastropik yang memakan biaya pengobatan termahal di Indonesia, karena umumnya pasien datang berobat pada saat sudah berada di stadium lanjut. Pada kondisi ini penanganan pengobatan lebih sulit dan dengan beban pembiayaan yang tinggi, hal ini memiliki keterkaitan dengan faktor sosial ekonomi masyarakat.

Terdapat keterkaitan atau hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan angka kejadian penyakit ini yang ditemukan oleh beberapa penelitian. Masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah memiliki resiko lebih tinggi untuk terpapar faktor resiko kanker. 

Masyarakat dari negara yang berpenghasilan rendah cenderung memiliki tingkat kanker lebih tinggi terkait infeksi, dibanding dengan negara-negara yang berpenghasilan tinggi. Angka perokok di negara berpenghasilan tinggi juga lebih sedikit dibanding dengan negara yang berpenghasilan rendah. Selain itu, masyarakat di negara penghasilan rendah mengalami kesulitan untuk dapat mengakses fasilitas pencegahan penyakit ini, misalnya fasilitas edukasinya, skrining, dan deteksi dini.

Faktor sosial ekonomi juga mempengaruhi prognosis dari kanker. Beberapa penelitian mendapatkan hubungan antara keadaan sosial ekonomi yang rendah dengan peningkatan kematian akibat penyakit ini. Ketimpangan terkait social determinants of health, seperti ras dan etnis, lokasi geografis, pekerjaan, gender, kepemilikan asuransi, dan tingkat pendidikan mempengaruhi apakah seseorang akan mendapatkan penanganan atau pengobatan yang tepat waktu dan efektif. 

Ketimpangan dalam pengobatan penyakit ini juga disebabkan oleh kurangnya operasionalisasi data skrining dan perawatan pada masyarakat yang paling membutuhkan, di antaranya mereka dengan tingkat sosial ekonomi rendah, ras minoritas, penduduk lansia, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri, fasilitas dan tenaga ahli spesialis penyakit ini masih kurang memadai dan hal ini tak seimbang dengan tinggi angka penderitanya. Karena keterbatasan fasilitas dan tenaga medis tersebut, pengobatannya masih kurang maksimal, apalagi untuk masyarakat dengan ekonomi rendah. Beberapa pasien BPJS dilaporkan mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan terkait pengobatan kanker, contohnya terjadinya keterlambatan penanganan karena sistem rujukan yang panjang dan tidak tersedianya sarana transportasi umum untuk menjangkau rumah sakit rujukan atau tidak tersedianya fasilitas dan obat yang memadai. 

Permasalahan pengobatan penyakit ini di Indonesia juga dikarenakan masih banyaknya pasien yang semata-mata memercayai pengobatan non-medis yang tidak disertai bukti ilmiah yang kuat. Sehingga para pasien baru datang ke pelayanan kesehatan saat sudah di stadium lanjut. Maka dari itu, edukasi masyarakat mengenai akses pelayanan penyakit ini sangat diperlukan, terutama untuk pasien dengan tingkat sosial ekonomi rendah.

Keprihatinan ini membuat banyak komunitas melakukan gerakan bersama-sama mendukung para penderitanya untuk sembuh dan bertahan hidup. Salah satunya yaitu komunitas Miles to Share.

Baca Juga: Bungkam Kesedihan Pejuang Kanker Cilik Bersama YSAS

Miles to Share Adakan Charity Campaign untuk Meningkatkan Kualitas Fasilitas Pelayanan Kanker Indonesia

Kanker

Miles to Share Adakan Charity Campaign untuk Tingkatkan Kualitas Fasilitas Pelayanan Kanker

Miles to Share merupakan komunitas yang terdiri dari para pejuang, penyintas, dan pendamping kanker. Komunitas ini akan mengadakan charity campaign Breast Cancer Awaraness Month, selama bulan Oktober sampai awal November 2022. 

Hasil charity akan didonasikan untuk mendukung peningkatan kualitas fasilitas pelayanan kanker payudara di 3 rumah sakit di Indonesia yang dijalankan oleh Cancer Information and Support Center (CISC) Indonesia.

Charity campaign Miles to Share akan disemarakkan melalui partisipasi serangkaian kegiatan, antara lain:

  1. Riding 1.200 KM di Randonneurs Fest 2022 Jogja (21-23 Oktober 2022);
  2. Fun run 5KM dan talkshow seputar kanker payudara di Semarang (30 Oktober 2022); dan
  3. Penjualan merchandise Miles to Share di https://voltandfastindonesia.com/collections/miles-to-share-2022. Hasil penjualan akan disalurkan sebagai donasi campaign.

Teman Peduli, yuk support misi Miles to Share dengan cara klik di sini untuk meningkatkan kualitas fasilitas pelayanan kanker di Indonesia!

Satu donasi darimu, satu dukungan untuk pejuang kanker payudara di Indonesia!

Baca Juga: Bantu Istri Buruh Tani Terderita Kanker Nasofaring