Halo, Teman PedulI!

Sama seperti pejuang perang, para atlet Indonesia yang dikirim untuk mewakili negara di berbagai perhelatan olahraga juga berusaha keras untuk mengharumkan nama bangsa. Sayangnya, dengan segudang prestasi dan medali yang mereka sumbangkan, banyak di antara para atlet Indonesia yang berakhir dengan hidup yang tak layak.

Kisah mantan atlet Indonesia yang hidup susah dan tak layak bukan sekadar dongeng untuk memancing simpati publik. Dilansir Kompas TV, menurut survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas, dari 330 atlet dan mantan atlet Indonesia, sebanyak 63,5 persen mengaku hidup dengan kesulitan keuangan. Ini tentu angka yang cukup banyak jika dibandingkan dengan prestasi-prestasi yang pernah ditorehkan sepanjang karir mereka.

Ada 35,8 persen mantan atlet Indonesia yang mengaku memerlukan jaminan hari tua dan dana pensiun. Bahkan, sebanyak 75,2 persen tidak punya simpanan hari tua sama sekali. Sementara itu, sebanyak 28,5 persen mantan atlet mengaku butuh pekerjaan agar dapat memenuhi kebutuhan harian mereka. 

Kamu mungkin pernah mendengar cerita Ellyas Pical, legenda tinju tanah air yang akhirnya terpaksa menjadi penjaga kelab malam. Atau Leni Haini, mantan atlet dayung berprestasi yang menjadi buruh cuci demi pengobatan anaknya. Ada pula Marina Martin Segedi yang sempat bekerja menjadi sopir taksi. Mereka adalah contoh bahwa betapa hebat prestasi yang mereka capai, masa depan mereka tetap terabaikan.

Kali ini, Ayobantu akan menceritakan kisah hidup seorang mantan atlet Indonesia lainnya yang pernah mengharumkan nama negara kita di kancah internasional. Namun, kondisi kehidupannya kini memprihatinkan.

Siapa dia? Yuk, simak ceritanya!

Ethel Hudson, sang Atlet Indonesia Peraih Medali Perak

Namanya adalah Ethel Hudson. Ethel merupakan mantan atlet Indonesia cabang olahraga (cabor) maraton, yang kini berusia 52 tahun. Sekarang, sang mantan atlet tinggal bersama keluarga kecilnya di sebuah rumah yang sangat sederhana.

Plafon dan atap yang bocor adalah bagian dari rumah keluarga Ethel. Ini tentu tidak sebanding dengan sejumlah prestasi yang pernah diraihnya sepanjang karir.

kondisi rumah atlet indonesia ethel hudson

Ethel Hudson duduk di depan rumahnya. (Dok. Filantra)

Saat masih menjadi atlet Indonesia, beragam ajang maraton pernah beliau ikuti, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa ajang yang diikuti mulai dari Marathon Penang Malaysia, Singapura,  hingga Korea Selatan.

Salah satu prestasi terbaik yang pernah ditorehkan Ethel adalah ketika ia terpilih untuk mewakili Indonesia di Olimpiade Atlanta, Amerika Serikat, pada 1996. Momen ini sekaligus membuatnya menjadi atlet Indonesia pertama di cabor maraton yang ikut Olimpiade.

Semua ini berkat medali perak yang diraihnya di Sea Games Chiang Mai, Thailand, setahun sebelumnya. Tak hanya itu, bersama dengan atlet Indonesia lainnya, Rossy Pratiwi Dipoyanti (dari cabor tenis meja), Ethel turut berkesempatan menjadi pembawa obor Olimpiade, mewakili Indonesia.

Erhel Hudson saat menjadi atlet Indonesia di SEA Games 1995

Erhel Hudson saat menjadi pembawa obor perwakilan Indonesia di Olimpiade Atlanta 1996. (Dok. Filantra)

Baca Juga: Nasib Veteran Indonesia Era Sekarang, Memprihatinkan?

Bekerja Serabutan

Jika banyak orang berharap menjadi atlet berprestasi agar bisa hidup layak, hal ini tidak terjadi pada Ethel Hudson sekarang. Terlepas dari semua pencapaiannya, ia sekarang menyambung hidup dengan bekerja serabutan. Sehari-hari, ia bersama sang istri berjualan kue dengan penghasilan yang tak menentu.

Ada hari ketika kue laris terjual habis. Namun, sering juga dagangannya masih banyak yang tersisa. Sambil berjualan kue, Ethel masih menyempatkan diri untuk melatih anak-anaknya yang punya impian menjadi pelari hebat seperti sang ayah.

“Saya merasa bangga dengan prestasi yang pernah diraih oleh bapak untuk Indonesia. Bapak juga mendidik kami dengan sangat baik dan memberikan dukungan penuh untuk bisa mengikuti jejaknya,” ungkap Michael, putra kedua Ethel.

nasib mantan atlet indonesia

Ethel Hudson dan kedua anaknya. (Dok. Filantra)

Baca Juga: Cerita Slamet Kardiman, Atlet Difabel Indonesia yang Berjuang dengan Keterbatasan

Saatnya Membalas Jasa

Rasa bangga yang kita rasakan kepada para pengharum nama bangsa, perlu kita wujudkan dalam bentuk nyata. Ayobantu mengajak Teman Peduli untuk bersama-sama memberikan apresiasi untuk Ethel Hudson.

Beliau adalah sosok yang pernah menaikkan nama Indonesia ke panggung olahraga internasional. Perjuangannya telah mengangkat nama baik dan prestasi negara kita di olahraga dunia.

Mantan atlet Indonesia marathon, Ethel Hudson.

Ethel Hudson menunjukkan penghargaan yang pernah diraih sebagai atlet Indonesia cabor maraton, termasuk medali perak di SEA Games 1995. (Dok. Filantra)

Kini, saatnya kita membalas jasanya dengan membantu kehidupannya yang kurang sejahtera. Kamu bisa membantu Ethel dengan berdonasi melalui  galang dana yang telah dibuka di Ayobantu.com.

Klik di sini ya, untuk memberikan sebagian rezeki kepada sang mantan atlet Indonesia kita. Satu donasi darimu, satu hari baru bagi Ethel untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga.

Jadi, tunggu apa lagi untuk berbuat baik?

 

Baca Artikel Lainnya

Mengenal Sahabat Veteran, Gerakan Apresiasi Pejuang Bangsa yang Terlupakan

Serangan Penyakit Lupus Buat Kulit Ibu Sri Mengelupas Parah

Penyakit Epilepsi Belum Membaik, Okta Butuh Bantuan Teman Peduli

 

Referensi

Selain Verawaty Fajrin, 7 Mantan Atlet Berprestasi Ini Juga Bernasib Nelangsa – Kompas TV